:) --> Pamanah Rasa

Religion :: Education :: Succeeding :: Productive :: Exercise :: Caring :: Truthfull

My Photo
Name:
Location: Bandung, Indonesia

Saturday, August 19, 2006

A Journey of Love

We walk the path of life everyday
We will love many along the way

You may even look into that special someones eyes
And fall in love, much to your surprise

You may love with all your heart
But sometimes its not enough and it will all fall apart

You will ask yourself How? and Why?
Your eyes will swell and tears will flow as you begin to cry

Inside your body, mind and soul it hurts really bad
And you can't explain and you think..Ohh no one will understand

Although at times, love can leave you sad and blue
You must look ahead.. down that path so new

Try to stay strong
Love is not always wrong

It might bring you to tears
But if its true it will take away all your fears and forever they will
disappear


So I say to YOU...

Don't ever take someones love for granted
For if you do they will be left disenchanted

Always show your love in every way
This you must do every single day

Don't ever let them doubt
Keep your eyes open wide
Recognize when they need you and they are crying out
Reach out to be right by their side

Love is waiting for you
Now all you have to do..

Is..

Have a little talk..
Take a little walk..


On

A Journey of Love.

Friday, August 18, 2006

Cinta Sastra Sunda


JIKA ada orang Jepang yang demikian fasih berbahasa Sunda, salah seorangnya adalah Dr. Mikihiro Moriyama. Ia tidak hanya fasih berbahasa Sunda dalam percakapan sehari-hari, tetapi juga mampu mengutarakan buah pikirannya yang dituturkan secara lisan dalam bahasa Sunda.

Kemampuannya dalam berbahasa Sunda itu, diperlihatkannya dalam sebuah acara diskusi bedah buku Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesusastraan Sunda Abad ke-19 di Gedung Loka Abika Widya, Itenas, Bandung, pekan lalu. Hadir sebagai pembahas dalam kesempatan tersebut antara lain Prof. Dr. Iskandarwassid, dan Drs. Teddy A.N. Muhtadin dengan moderator Hawe Setiawan.

Buku yang ditulis oleh Dr. Mikihiro Moriyama selama sebelas tahun itu, semula berjudul A New Spirit: Sundanese Publishing and the Changing Configuration of Writing in Nineteenth Century West Java. Kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Suryadi, M.A. dan diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG, 2005)

"Gagasan untuk meneliti asal-muasal tulisan Sunda modern ini, mulai mengusik benak saya ketika tinggal di Leiden pada 1998 lalu. Pertemuan saya dengan Dr. Heink Maier, membuat saya mengambil keputusan untuk menulis disertasi di Leiden. Sedangkan, bahan-bahan yang saya tulis itu sudah saya kumpulkan jauh sebelumnya," ujar Dr. Mikihiro Moriyama, dalam percakapannya dengan "PR" di sela-sela acara bedah buku tersebut serta percakapan sebelumnya di Toko Buku Ultimus, Bandung.

Dikatakan, minat dirinya mendalami bahasa dan sastra Sunda sudah mulai tumbuh pada tahun 1980, ketika menjadi mahasiswa S-1 di Osaka University of Foreign Studies Jepang. Dua orang yang membuat dirinya mendalami bahasa dan sastra Sunda adalah penyair Ajip Rosidi dan Prof. Hiroshi Matsuo.

Adapun sastrawan Sunda yang hidup pada paruh kedua abad ke-19 yang menjadi fokus kajiannya dalam bukunya itu adalah Moehamad Moesa. "Ia pada zamannya dianggap sebagai penulis paling hebat, yang menguasai dengan baik ragam bahasa Sunda. Data-data tentang Moehamad Moesa ini, banyak saya temukan di Leiden. Saya berharap, apa yang saya tulis ini bisa merangsang para penulis lainnya di tatar Sunda sendiri, untuk menggali kekayaan bahasa dan sastra Sunda pada abad ke-19. Apa yang saya tulis ini baru berupa himpunan pertanyaan," ujarnya, merendah.

Kini, alumnus Fakultas Sastra Universitas Leiden ini, mengajar di Universitas Nazan, Jepang. "Di Jepang, saya tidak hanya mengajar bahasa dan sastra Sunda, tetapi juga mengajar bahasa dan sastra Indonesia," katanya.

Jika dirinya diberi umur panjang, akan tetap memusatkan perhatiannya pada perkembangan dan pertumbuhan sastra Sunda. Alasannya antara lain, di dalam karya sastra Sunda ada banyak nilai yang bisa dipetik, yang bermanfaat bagi dirinya dan mungkin juga bagi orang lain. "Buku yang saya tulis ini semacam rasa terima kasih kepada orang Sunda, bahasa dan sastra Sunda yang telah membuat saya hingga seperti sekarang ini. Apa yang saya teliti ini saya kembalikan kepada orang Sunda. Semoga orang Sunda senang membacanya," ujar Dr. Mikihiro Moriyama. (Soni F.M./"PR")***

Friday, August 11, 2006

Segenggam Gundah

Subuh tadi saya melewati sebuah rumah, 50 meter dari rumah saya dan melihat seorang isteri mengantar suaminya sampai pagar depan rumah.
"Yah, beras sudah habis loh..." ujar isterinya.
Suaminya hanya tersenyum dan bersiap melangkah, namun langkahnya terhenti oleh panggilan anaknya dari dalam rumah, "Ayah..., besok Agus harus bayar uang praktek".

"Iya..." jawab sang Ayah. Getir terdengar di telinga saya, apalah lagi bagi lelaki itu, saya bisa menduga langkahnya semakin berat.

Ngomong-ngomong, saya jadi ingat pesan anak saya semalam, "Besok beliin lengkeng ya" dan saya hanya menjawabnya dengan "Insya Allah" sambil berharap anak saya tak kecewa jika malam nanti tangan ini tak berjinjing buah kesukaannya itu.

Di kantor, seorang teman menerima SMS nyasar, "jangan lupa, pulang beliin susu Nadya". Kontan saja SMS itu membuat teman saya bingung dan sedikit berkelakar, "ini, anak siapa minta susunya ke siapa". Saya pun sempat berpikir, mungkin jika SMS itu benar-benar sampai ke nomor sang Ayah, tambah satu gundah lagi yang
bersemayam. Kalau tersedia cukup uang di kantong, tidaklah masalah. Bagaimana jika sebaliknya?

Banyak para Ayah setiap pagi membawa serta gundah mereka, mengiringi setiap langkah hingga ke kantor. Keluhan isteri semalam tentang uang belanja yang sudah habis, bayaran sekolah anak yang tertunggak sejak bulan lalu, susu si kecil
yang tersisa di sendok terakhir, bayar tagihan listrik, hutang di warung tetangga yang mulai sering mengganggu tidur, dan segunung gundah lain yang kerap membuatnya terlamun.

Tidak sedikit Ayah yang tangguh yang ingin membuat isterinya tersenyum, meyakinkan anak-anaknya tenang dengan satu kalimat, "Iya, nanti semua Ayah bereskan" meski dadanya bergemuruh kencang dan otaknya berputar mencari jalan untuk janjinya membereskan semua gundah yang ia genggam.

Maka sejarah pun berlangsung, banyak para Ayah yang berakhir di tali gantungan tak kuat menahan beban ekonomi yang semakin menjerat cekat lehernya. Baginya, tali gantungan tak bedanya dengan jeratan hutang dan rengekan keluarga yang
tak pernah bisa ia sanggupi. Sama-sama menjerat, bedanya, tali gantungan menjerat lebih cepat dan tidak perlahan-lahan.


Tidak sedikit para Ayah yang membiarkan tangannya berlumuran darah sambil menggenggam sebilah pisau mengorbankan hak orang lain demi menuntaskan gundahnya.


Walau akhirnya ia pun harus berakhir di dalam penjara. Yang pasti, tak henti tangis bayi di rumahnya, karena susu yang dijanjikan sang Ayah tak pernah terbeli.

Tak jarang para Ayah yang terpaksa menggadaikan keimanannya, menipu rekan sekantor, mendustai atasan dengan memanipulasi angka-angka, atau berbuat curang di balik meja teman sekerja. Isteri dan anak-anaknya tak pernah tahu dan tak pernah bertanya dari mana uang yang didapat sang Ayah.


Halalkah? Karena yang penting teredam sudah gundah hari itu.

Teramat banyak para isteri dan anak-anak yang setia menunggu kepulangan Ayahnya, hingga larut yang ditunggu tak juga kembali. Sementara jauh disana, lelaki yang isteri dan anak-anaknya setia menunggu itu telah babak belur tak berkutik, hancur
meregang nyawa, menahan sisa-sisa nafas terakhir setelah dihajar massa yang geram oleh aksi pencopetan yang dilakukannya. Sekali lagi, ada yang rela menanggung resiko ini demi segenggam gundah yang mesti ia tuntaskan.

Sungguh, diantara sekian banyak Ayah itu, saya teramat salut dengan sebagian Ayah lain yang tetap sabar menggenggam gundahnya, membawanya kembali ke rumah, menyertakannya dalam mimpi, mengadukannya dalam setiap sujud panjangnya
di pertengahan malam, hingga membawanya kembali bersama pagi. Berharap ada rezeki yang Allah berikan hari itu, agar tuntas satu persatu gundah yang masih ia genggam. Ayah yang ini, masih percaya bahwa Allah takkan membiarkan hamba-
Nya berada dalam kekufuran akibat gundah-gu ndah yang tak pernah usai.

Para Ayah ini, yang akan menyelesaikan semua gundahnya tanpa harus menciptakan gundah baru bagi keluarganya. Karena ia takkan menuntaskan gundahnya dengan tali
gantungan, atau dengan tangan berlumur darah, atau berakhir di balik jeruji pengap, atau bahkan membiarkan seseorang tak dikenal membawa kabar buruk tentang dirinya yang hangus dibakar massa setelah tertangkap basah mencopet.

Dan saya, sebagai Ayah, akan tetap menggenggam gundah saya dengan senyum. Saya yakin, Allah suka terhadap orang-orang yang tersenyum dan ringan melangkah di balik semua keluh dan gundahnya. Semoga.

----------

Diperuntukkan bagi,untuk para calon bapak dan bapak yang selalu berupaya istiqomah dijalan Alloh SWT. Amiin.